Pelaksanaan Sistem Among pada Konteks Sekarang

Published May 13, 2012 by indahnhbk
Tamansiwa lahir pada tanggal 3 Juli 1922, dengan terminologi asing“Nationale Onderwijs Tamansiswa” atau dikenal sebagai Perguruan NasionalTamansiswa. Berdirinya Tamansiswa sebenarnya merupakan kelahiran kembaliSistem Paguron yang telah digunakan dikalangan masyarakat Indonesia.Salah satu ciri penerapan sistem among adalah dengan sistem paguron.Konsep Ki Hajar Dewantara mengenai sitem paguron banyak keuntungan didapatmelalui sistem tersebut. Terdapat sekolah yang masih melaksanakan sistem paguron tersebut dengan lengkap, namun pada umumnya dalam beberapa halsudah tidak mungkin melaksanakan dengan lengkap. Sekolah yang masihmelaksanakan sistem paguron dengan lengkap adalah Perguruan Taruna
 Nusantara di Magelang yang merupakan prototipe Paguron Tamansiswa dalamskala nasional yang dikelola secara modern dengan perlengkapan alat pendidikanyang canggih.Di samping mengenai tempat tinggal yang menerpakan sistem asrama, padatahun enam puluhan para pamong sering berkunjung kerumah siswa (home visit)untuk mengakrabkan hubungan pamong dengan keluarga siswa. Ketika hal ituditanyakan kepada salah satu pamong, kondisi sekarang sudah berbeda.Kunjungan kerumah siswa dilaksanakan bila terdapat permasalahan siswa yang perlu dipecahkan bersama dengan orang tua siswa. Hal itu antara lain disebabkan padatnya kurikulum yang harus diselesaikan oleh guru. Dalam pelaksanaan PBM, pamong membuka pelajaran dengan mengucapkan kata “ salam” yang disambutsiswa-siswa dengan jawaban “ salam” juga. Selanjutnya pamong memintasiwanya untuk merapikan baju masing-masing, menyiapkan buku- buku yangakan digunakan, dan selanjutnya memberikan materi pelajaran dan evaluasi.Untuk menutup belajar mengajar, pamong mengucapkan kata “ salam” lagidan dijawab oleh siswa dengan “ salam”. Berdasarkan hasil pengamatan danwawancara kepada beberapa informan adalah ada beberapa hal dalam sistemAmong yang sudah tidak dilaksanakan lagi di Taman Dewasa Jetis, yaitumengenai rumah untuk pamong, dan kunjungan rumah yang lebih terfokus padasiswa yang mengalami masalah yang harus diselesaikan bersama orang tua. Untuk  proses pembelajaran masih terlihat dengan jelas suasana penerapan SistemAmong. Untuk kurikulum muatan lokal sangat terlihat ajaran-ajaran Ki Hajar
Dewantara, yaitu dengan dilaksanakannya muatan lokal Bahasa Jawa dankarawitan yang merupakan bagian dari kebudayaan lokal.Beberapa hal yang seharusnya dilaksanakan seperti sistem Paguron sudahtidak dapat dilaksanakan karena beberapa keterbatasan. Hal tersebut tidak menyalahi ajaran Ki Hajar Dewantara, karena beliau pernah mengatakan bahwa pelaksanaan pendidikan disesuaikan dengan jaman, namun demikian harusmengingat pedoman yang sudah digariskan yantu Sifat, Bentuk, Isi, dan Irama(SBII). Sifat harus tetap, yang boleh berubah adalah Bentuk Isi dan Iramanyasesuai dengan kemajuan alam dan jamannya.Dengan mengikuti pedoman SBII tersebut, Sistem Among mengandungdinamika yang tinggi, prospektif, menjangkau masa depan, tanpa harusmeninggalkan ciri-ciri khas Tamansiswa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: