Konsep Kebudayaan TAMANSISWA

Published May 13, 2012 by indahnhbk
Konsepsi dasar Tamansiswa untuk mencapai cita-citanya adalah Kebu-dayaan, Kebangsaan, Pendidikan, Sistem Kemasyarakatan, dan Sistem EkonomiKerakyatan. Intinya ialah, bangsa ini tidak boleh kehilangan jati diri, menjagakeutuhan dalam berbangsa, menjalankan pendidikan yang baik untuk mencapaikemajuan, terjadinya harmonisasi sosial di dalam bermasyarakat, sertamenghindari terjadinya kesenjangan eko-nomi yang terlalu tajam antarwarganegara.Kebudayaan nasional pada dasarnya merupakan puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan daerah yang ada di Indonesia. Kebudayaan nasional bukanlahsesuatu yang statis akan tetapi bergerak dinamis sesuai dengan irama kemajuan
 jaman. Dalam konsep ini seluruh kebudayaan daerah dihargai sebagai asetkebudayaan nasional; di sisi yang lain adanya kemajuan kebudayaan sangatdimungkinkan, baik kebudayaan nasional maupun daerah.Kebudayaan Tamansiswa mengembangkan “Konsep Trikon” yang ter-diridari kontinuitas, konvergensitas, dan konsentrisitas. Maksudnya, hendaknya kitaini mampu melestarikan budaya adhi luhung para pendahulu dengan tetapmemberikan ruang kepada budaya manca untuk saling berkolaborasi. Meskidemikian dalam kolaborasi antara budaya kita dengan budaya manca tersebuthendaknya menghasilkan budaya baru yang lebih bermakna.Kebudayaan Tamansiswa mengembangkan “Konsep Trisakti Jiwa” yangterdiri dari cipta, rasa, dan karsa. Adapun maksudnya adalah, untuk melaksanakansegala sesuatu maka harus ada kombinasi yang sinergis antara hasil olah pikir,hasil olah rasa, serta motivasi yang kuat di dalam dirinya. Kalau untuk melaksanakan segala sesuatu itu hanya mengandalkan salah satu diantaranya sajamaka kemungkinannya akan tidak berhasil.Kebudayaan Tamansiswa mengembangkan “Konsep Trihayu” yang terdiridari memayu hayuning sarira, memayu hayuning bangsa, dan memayu hayunin bawana. Maksudnya adalah, apa pun yang diperbuat oleh seseorang itu hendaknyadapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya. Kalau perbuatan seseorang hanyamenguntungkan dirinya saja maka akan terjadi sesuatu yang sangatindividualistik.

Untuk menjadi pemimpin di tingkat mana pun kebudayaan Tamansiswamengajarkan “Konsep Trilogi Kepemimpinan” yang terdiri dari ing ngarsa sungtuladha, ing madya mangun karsa, serta tut wuri handa-yani. Maksudnya adalah,ketika berada di depan harus mampu menjadi teladan (contoh baik), ketika beradadi tengah-tengah harus mampu membangun semangat, serta ketika berada di belakang harus mampu mendorong orang-orang dan/atau pihak-pihak yangdipimpinnya.Kebudayaan Tamansiswa mengembangkan “Konsep Tripantangan” yangterdiri dari pantang harta, praja, dan wanita. Adapun maksudnya adalah, kitadilarang menggunakan harta orang lain secara tidak benar (misal korupsi),menyalahgunakan jabatan (misal kolusi), dan bermain wanita (misalmenyeleweng). Ketiga pantangan ini hendaknya tidak dilanggar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: